format

Universitas Konservasi

Universitas Negeri Semarang

FORMAT UNNES

Forum Mahasiswa Tegal UNNES

Embung

fasilitas yang ada di UNNES untuk menaggulangi banjir

Delegasi Format UNNES

dalam rangka pembentukan FORMAT Semarang di Kampus 3 IAIN Walisongo Semarang.

Sosialisasi 2013

FORMAT UNNES bersosialisasi SNMPTN 2013 di SMA, SMK, MAN Kota dan Kab. Tegal

Selasa, 08 Januari 2013

Tirta Waduk Cababan




SEJARAH Waduk cacaban mulai digagas sejak tahun 1914 dan dibuat perencanaan detailnya pada tahun 1930 oleh pemerintah kolonial Belanda. Pembangunan fisiknya dimulai pada tahun 1952 dimana peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno pada tanggal 16 September 1952, dan selesai pembangunannya pada tahun 1958 diresmikan penggunaanya oleh penjabat Presiden Mr. Sartono pada tanggal 19 Mei 1958. Sejak saat itu secara resmi waduk Cacaban dioperasionalkan hingga sekarang.
Selama operasional, telah banyak kegiatan yang dilakukan dalam rangka menjaga fungsi waduk, baik yang bersifat pemeliharaan maupun pembangunan. Waduk Cacaban selain mempunyai fungsi utama sebagai sumber air untuk irigasi, juga merupakan potensi wisata yang dapat dikembangkan sebagai wisata air maupun wisata alam. Kawasan wisata alam waduk Cacaban merupakan salah satu aset Pemerintah Kabupaten Tegal sebagai obyek wisata dari beberapa obyek wisata lainnya. Sasaran obyek wisata Waduk Cacaban saat ini hanya melihat air diwaduk dan makanan khas ala Waduk Cacaban dengan menu ikan air tawar dari waduk disamping sebagai tempat tujuan memancing dari beberapa daerah disekitarnya.
Secara geografis kawasan wisata alam waduk cacaban terletak di tiga wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Kedungbanteng meliputi sebagian Desa Penujah, Karanganyar, Tonggara dan Karangmalang, Kecamatan Jatinegara meliputi sebagian Desa Jatinegara, Dukuhbangsa, Lebakwangi, Capar, Padasari dan Wotgalih dan Kecamatan Pangkah meliputi sebagian Desa Dermasuci.


HARGA TIKET MASUK
Harga Tiket Masuk Untuk Hari Biasa :
-    Dewasa        : Rp. 3.500,- + Asuransi Jasa Raharja
-    Anak-anak    : Rp. 2.500,- + Asuransi Jasa Raharja

Harga Tiket Masuk Untuk Hari Libur/Tanggal Merah
-    Dewasa         : Rp. 4.500,- + Asuransi Jasa Raharja
-    Anak-anak     : Rp. 3.500,- + Asuransi Jasa Raharja


AKSES
Transportasi menuju ke Kawasan wisata alam waduk Cacaban dapat ditempuh melalui dua jalur yang pertama dari Kota Tegal dengan jalur melalui Kramat – Pangkah – Waduk Cacaban dengan jarak kurang lebih 20 km dan yang kedua dari Kota Slawi - Pangkah – Waduk Cacaban dengan jarak kurang lebih 9 km. dimana pada saat sekarang sudah tersedia angkutan umum pedesaan dengan trayek Slawi – Cacaban sebanyak 25 Armada, sedang yang dalam proses persiapan pelaksanaan adalah angkutan dengan “Loko Antik” dari Pabrik gula Pangkah menuju Cacaban.


FASILITAS UMUM PARIWISATA
-    Bumi Perkemahan.
-    Tempat Bermain Anak.
-    Panggung Hiburan.
-    Bukit Mbah Santi.
-    Kapal Wisata.
-    Warung Apung. 
-    Road Race.
-    Hotel Melati.
-    Rumah Makan.


FASILITAS SOSIAL PARIWISATA
-    Musholla.
-    Toilet.
-    Tempat Parkir Luas.

Masjid

Masjid Wali



DESKRIPSI


NAMA : MASJID TUKUL
NO.INVENTARIS : II.28/TGA/TB/020
LOKASI : Desa Cangkring Kec. Talang Kab. Tegal
PERIODISASI : Abad ke-17
KONDISI : Baik



DESKRIPSI


NAMA : MASJID WALI
NO.INVENTARIS : II.28/TGA/TB/022
LOKASI : Desa Danaraja Kec. Margasari Kab. Tegal
PERIODISASI :
KONDISI : Baik



DESKRIPSI


NAMA : MASJID WALI
NO.INVENTARIS : II.28/TGA/TB/025
LOKASI : Desa Pesarean Kec. Pagerbarang Kab. Tegal
BAHAN : Batu Bata
KONDISI : Baik

Wayang Tradisional



Dalang wayang kulit dan wayang golek asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah,, Ki Enthus Susmono, berusaha mengikuti persoalan yang dihadapi masyarakat. Kelebihannya berimprovisasi dan menciptakan kreasi wayang membuat dia diperhitungkan di dunia seni pewayangan.
Akhir Januari lalu, karya wayang terbarunya, wayang Rai Wong atau wayang berwajah orang, dipamerkan di Museum Tropen-Asmterdam, Belanda. Pameran yang rencananya berlangsung selama enam bulan itu bertajuk Wayang Superstar The Theaterworld of Ki Enthus Susmono. Pameran ini menampilkan wayang kulit dan wayang golek karya Enthus yang dimiliki Museum Tropen.
Jumlah wayang yang dipamerkan sebanyak 57 buah, di antaranya wayang berwajah George Bush, Saddam Hussein, dan Osama bin Laden. Seusai pameran Juni nanti Enthus akan mementaskan wayang kulit Rai Wong dengan lakon Dewa Ruci di Amsterdam, Dohctrect, dan Paris.
Popularitas Enthus sebagai dalang tak diperoleh dengan mudah, meski darah seni sang ayah, Soemarjadiharja, yang berprofesi sebagai dalang wayang kulit dan wayang golek, mengalirinya.
Meskipun lahir dari keluarga dalang, Enthus tidak diizinkan oleh ayahnya menjadi dalang. ”Alasan ayah saya, dadi dalang kuwi abot sanggane (menjadi dalang itu berat bebannya),” kata Enthus.
Ketika itu dia tak begitu mengerti makna ucapan sang ayah. Seiring berjalannya waktu, ia mulai memahami maksud sang ayah. Katanya, hal paling pokok yang sering terjadi pada dalang adalah manajemen keuangan yang salah. Dalang sering menggunakan manajemen ayam, yaitu langsung menghabiskan uang yang diperolehnya.
Oleh karena itulah, ayahnya tak ingin Enthus menjadi dalang. Dia diharapkan belajar sampai perguruan tinggi agar mempunyai bekal hidup cukup. Namun, sejak masih kecil ia justru sering mencuri kesempatan memainkan wayang milik ayahnya.

”Saya memainkan wayang kalau ayah saya sedang tidur, seusai pentas. Kalau beliau bangun, semua perlengkapan sudah saya rapikan lagi,” ujarnya.

Disindir Guru
Semangat Enthus untuk menggeluti dunia wayang terusik ketika ia disindir salah seorang gurunya. Saat itu ia duduk di bangku SMP Negeri 1 Tegal. Gurunya mengatakan, sebagai anak dalang kok dia tak bisa memainkan gending.
Merasa tertantang, ia lalu mengikuti kegiatan ekstra kulikuler karawitan Enthus dibimbing gurunya, Prasetyo. Menurut dia, ilmu dari gurunya itu yang menjadi dasar kemahirannya memainkan gamelan dan mendalang.
”Bisa dikatakan, ilmu itu yang membuat saya bisa makan sampai sekarang,” tuturnya.
Berkat latihan rutin karawitan, Enthus menjadi mahir memainkan kendang, hingga ia dijuluki teman-teman sebagai Enthus tukang kendang. Lulus SMP, ia bisa memainkan kendang untuk mengiringi tari Eko Prawiro.
Selepas SMPN 1 Tegal, ia melanjutkan belajar di SMAN 1 Tegal. Saat duduk di bangku SLTA inilah, ia mulai mendalang. Ini berawal dari acara lomba karya penegak pandega dalam kegiatan ekstra kulikuler pramuka.
Enthus mendalang menggunakan wayang dari batang pohon pisang, dengan gamelan cangkem (suara mulut). Layar atau geber diikatkan pada tongkat pramuka yang dipegangi teman-temannya.
”Lampu untuk penerangan dengan obor. Wayang yang dimainkan Punokawan,” ceritanya.
Ternyata pentas sederhana itu mendapat sambutan para guru dan teman-temannya. Sejak itu ia sering diminta mendalang pada acara pramuka di sekolah-sekolah lain.
Melihat potensi Enthus  dalam dunia pewayangan, salah seorang guru SMA-nya, Marwadi, mendatangi ayah Enthus untuk memintakan izin agar anak itu diperbolehkan mendalang. Dari sinilah hati ayahnya luluh, bahkan membuatkan geber kecil untuknya. Untuk latihan ia membuat wayang dari kertas yang diwarnai dengan cat air.
Saat lustrum V SMAN 1 Tegal pada 24 Agustus 1983, Enthus diminta mendalang selama dua jam. Ketika itu sang ayah menyaksikan pementasannya. Setelah itu, tak hanya mengizinkan, ayahnya pun mewisuda Enthus sebagai dalang di hadapan warga setempat.
”Dia hanya berpesan agar saya memahami pakem kehidupan lebih dulu, sebelum belajar pakem wayang,” katanya. Sejak itu, Enthus menjadi dalang yang sesungguhnya. Ia kerap diminta pentas di balai desa dan acara hajatan.
Ekonomi keluarga
Februari 1984, Soemarjadiharja wafat dalam usia 55 tahun, karena sakit. Ketika itu Enthus duduk di kelas II SMA. Kepergian sang ayah mengakibatkan ekonomi keluarga itu terseok-seok.
Enthus pun mengambil alih peran sebagai kepala keluarga, untuk menghidupi ibu dan membiayai sekolahnya. Ia juga harus menghidupi 11 anak pungut sang ayah. Jadilah dia bersekolah pada pagi hari, dan malamnya mendalang untuk mendapat penghasilan.
Selepas SMA ia diterima di Jurusan Biologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Mengingat keterbatasan dana, kesempatan itu tak diambilnya. Ia juga mendaftar di Akabri, tapi tak diterima.
Memanfaatkan relasi sang ayah, Enthus terus mendalang. Ia pernah menjadi pembuat minuman di Akademi Seni dan Karawitan Indonesia (ASKI) Solo selama 1984-1986. Di sini pula ia belajar banyak hal dengan melihat bagaimana mahasiswanya berlatih.
”Di sini (ASKI), saya ketemu Pak Bambang Suwarno. Dia dosen yang mengajari saya menggambar,” kenangnya.
Nama Enthus berkibar setelah ia memenangi Festival Dalang Remaja Tingkat Jawa Tengah di Wonogiri tahun 1988. Ia juga terus berkreasi mengembangkan berbagai jenis wayang, sampai wayang Rai Wong.
Wayang Rai Wong dia buat untuk mengenalkan wayang klasik kepada orang yang baru mengenal wayang. Enthus mengakui, sebagai dalang ia tak terikat pakem sehingga dalam pementasan lebih sering menyesuaikan pada situasi dan suka memakai bahasa sehari-hari.
Hal itu dia lakukan sejak awal mendalang, mengingat banyak orang yang menjadi tanggungannya. ”Jadi, wayang saya harus laku. Kalau ikut pakem, saya ada di urutan ke berapa?” tambahnya.
Namun, justru dari kondisi seperti itulah Enthus merasa lebih bebas bereksplorasi. Sanggar Satria Laras  yang dikelolanya pun makin berkembang, dengan lebih dari 200 orang terlibat di dalamnya.

Agrowisata Kereta Antik



SEJARAH

PG Pangka didirikan pada jaman Belanda dengan pemiliknya “NV-MIJTOT EXPLOITATIE DERT SUIKER FABRIEKEN” yang dikelola oleh NV-KOZY dan SUCIER yang berkedudukan di Surakarta. Sejak tahun 1832 perusahaan ini sudah berproduksi dan pada tahun 1851 perusahaan ini disempurnakan keadaannya. Dengan berdasarkan UU No. 86/1958 dan PP No. 19/1959 terjadi pengambilalihan perusahaan ini dari perkebunan ex Belanda. Dengan adanya nasionalisasi, perusahaan berubah statusnya menjadi Pusat Perkebunan Negara Baru (PPN Baru) yang diatur dalam PP No. 24/1958 dan SK Menteri No. 229/UM/57 tanggal 10 Desember 1957.  Di Jawa Tengah ini PPN Baru mengelola dua Pabrik Gula dan PSA termasuk didalamnya PG Pangka.  Berdasarkan PP No. 141 / 1961, maka berubah menjadi PPN Kesatuan Jateng II, untuk PG PANGKA termasuk di dalamnya.
Hal menarik hingga kini tentang operasionalisasi PG Pangka adalah transpotasi tebu masih menggunakan rel kereta, dibangun lebih 150 tahun yang lalu dengan lokomotif kuno bermesin uap maupun diesel, terbuat pada kisaran tahun 1915. Dijamannya, penggunaan kontruksi rel kereta dan lokomotif uap merupakan rekayasa teknologi canggih. Masih beroperasinya lokomotif kuno mengundang minat wisatawan asing yang umumnya dari eropa berkunjung ke PG Pangka. Selain tertarik dengan lokomotif tua yang masih berfungsi, mereka juga kagum pada pengolahan gula yang masih menggunakan teknologi era 1800-an, sesuatu yang langka untuk ukuran perusahaan eropa saat ini. Berkunjung ke PG Pangka adalah belajar sejarah dengan nyata, bukan dari buku atau film dokumenter. Bahkan diantara wisatawan mencoba lokomotif uap sampai berulang-ulang, bangga rasanya masih bisa menggunakan hasil karya kakek-kakek saya. Demikian pengakuannya. Anak cucu pendiri dan pengelola pabrik era kolonial Belanda juga banyak berkunjung, mereka senang bisa bernostalgia dimana orang tua dan kakeknya dulu pernah tinggal, berkunjung ke pabrik dan jalan-jalan diperkebunan tebu, sambil membayangkan kakek-kakek mereka dulu bekerja.
Fenomena yang dapat dikembangkan menjadi wisata eksklusif, bila umumnya berkunjung ke museum hanya melihat barang-barang saksi sejarah, maka melihat PG Pangka adalah bicara pada sejarah peradaban manusia yang terus berkata-kata. Atas inisiatif Laksono Hujianto, maka dicetuskan suatu ide obyek wisata dalam jingle “Loco Antik”, suatu paket wisata bernuansa langka sebagai media edukasi dan rekreasi. Loco Antik merupakan ikon representasi dari loco yang terbuat pada tahun 1927. Ditarik lokomotif tua, digunakan dalam perjalanan wisata rekreasi melihat pemandangan perkebunan tebu dengan jarak ± 10 Km. Kapasitas loko antik terdiri dari 3 gerbong kereta dengan kapasitas 75 untuk orang dewasa, sedang untuk anak-anak bisa memuat sampai 100 anak.


HARGA TIKET KERETA LOCO
1.    Hari Biasa     : Paket Seharga 2,5 Juta untuk 125 Orang (belum melayani untuk individu)
2.    Kecuali ada Syukuran Pabrik bisa dilakukan setiap hari selama syukuran berlangsung dan untuk harga tiket sebesar Rp. 5.000,-


FASILITAS UMUM WISATA LOKO
Ada dua jalur yang ditawarkan :
1.    Jalur arah Barat Laut, melintasi perkampungan dan perkebunan tebu;
2.  Jalur Timur Laut, melintasi perkebunan tebu sambil menikmati keindahan pegunungan Waduk Cacaban.

Wisata loco antik ditunjang dengan kegiatan :
1.    Kunjungan lebih dekat tentang proses pembuatan gula pasir dari tebu.
2.   Presentasi deskriptif tentang sejarah PG Pangka dan tata cara baku menanam tebu;
3.   Acara ekslusif yang dinantikan pengunjung, bahkan wisatawan mancanegara adalah ritual “Temanten Tebu”, acara yang dilaksanakan hanya sekali dalam setahun, tepatnya pada selamatan pesta giling (April-Mei). Ritual yang mengekspresikan rasa syukur kepada Tuhan sang penguasa alam. Simbol penganten tebu, diambil dari tebu milik petani dan milik PG Pangka. Satu simbol persatuan antara petani dan PG dalam menyongsong panen raya dan giling. Konon sinar wajah temanten dapat mencerminkan berhasil atau tidak dalam pasca panen, tidak percaya ? buktikan.

Suatu pembelajaran dalam menghargai etape peradaban anak bangsa. Tidak salah memang, jika “Loco Antik” merupakan salah satu alternatif sebagai media rekreasi dan edukasi.


INFORMASI
Jl. Raya Pangkah, Slawi – Tegal.
Telp. (0283) 6195550, Fax.(0283) 6195545.

Ki Enthus Susmono

Ki Enthus Susmono (lahir di Tegal, 21 Juni 1966; umur 46 tahun) adalah seorang dalang yang berasal dari Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Ia adalah anak satu-satunya Soemarjadihardja, dalang wayang golèk terkenal dari Tegal dengan istri ke-tiga bernama Tarminah. Bahkan R.M. Singadimedja, kakek moyangnya, adalah dalang terkenal dari Bagelen pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat di Mataram.
KI Enthus Susmono dengan segala kiprahnya yang kreatif, inovatif serta intensitas eksplorasi yang tinggi, telah membawa dirinya menjadi salah satu dalang kondang dan terbaik yang dimiliki negeri ini. Pikiran dan darah segarnya mampu menjawab tantangan dan tuntutan yang disodorkan oleh dunianya, yaitu jagat pewayangan.
Gaya sabetannya yang khas, kombinasi sabet wayang golek dan wayang kulit membuat pertunjukannya berbeda dengan dalang-dalang lainnya. Ia juga memiliki kemampuan dan kepekaan dalam menyusun komposisi musik, baik modern maupun tradisi (gamelan). Kekuatan mengintrepretasi dan mengadaptasi cerita serta kejelian membaca isu-isu terkini membuat gaya pakeliran-nya menjadi hidup dan interaktif. Didukung eksplorasi pengelolaan ruang artisitik kelir menjadikannya lakon-lakon yang ia bawakan bak pertunjukan opera wayang yang komunikatif, spektakuler, aktual, dan menghibur. Pada tahun 2005, dia terpilih menjadi dalang terbaik se-Indonesia dalam Festival Wayang Indonesia yang diselanggarakan di Taman Budaya Jawa Timur. Dan pada tahun 2008 ini dia mewakili Indonesia dalam event Festival Wayang Internasional di Denpasar, Bali.
Ia adalah salah satu dalang yang mampu membawa pertunjukan wayang menjadi media komunikasi dan dakwah secara efektif. Pertunjukan wayangnya kerap dijadikan sebagai ujung tombak untuk menyampaikan program-program pemerintah kepada masyarakat seperti: kampanye; anti-narkoba, anti-HIV/Aids, HAM, Global Warming, program KB, pemilu damai, dan lain-lain. Di samping itu dia juga aktif mendalang di beberapa pondok pesantren melalui media Wayang Wali Sanga.
Kemahiran dan ‘kenakalannya’ mendesain wayang-wayang baru/kontemporer seperti wayang Goerge Bush, Saddam Husein, Osama bin Laden, Gunungan Tsunami Aceh, Gunungan Harry Potter, Batman, wayang alien, wayang tokoh-tokoh politik, dan lain-lain membuat pertunjukannya selalu segar, penuh daya kejut, dan mampu menembus beragam segmen masyarakat. Ribuan penonton selalu membanjiri saat ia mendalang. Keberaniannya melontarkan kritik terbuka dalam setiap pertunjukan wayangnya, memosisikan tontonan wayang bukan sekadar media hiburan, melainkan juga sebagai media alternatif untuk menyampaikan aspirasi masyarakat.
Baginya, wayang adalah sebuah kesenian tradisi yang tumbuh dan harus selalu dimaknai kehadiriannya agar tidak beku dalam kemandegan. Daya kreatif dan inovasinya telah mewujud dalam berbagai bentuk sajian wayang, antara lain: wayang planet (2001-2002), Wayang Wali (2004-2006), Wayang Prayungan (2000-2001), Wayang Rai Wong (2004-2006), Wayang Blong (2007) dan lain-lain. Museum Rekor Dunia Indonesia-pun (MURI) menganugerahi dirinya sebagai dalang terkreatif dengan kreasi jenis wayang terbanyak (1491 wayang). Dan beberapa wayang kreasinya telah dikoleksi oleh beberapa museum besar di dunia antara lain; Tropen Museum di Amsterdam Belanda, Museum of Internasional Folk Arts (MOIFA) New Mexico, dan Museum Wayang Walter Angts Jerman. Semuanya tak lain dimuarakan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat luas terhadap wayang, penajaman pasar, dan membumikan kembali wayang kulit di tanah air tercinta ini.

Kiprah Pedalangan

  • Ribuan kali pementasan pewayangan di berbagai kota di Indonesia (1986—sekarang), dengan akumulasi rata-rata setiap tahunnya sebanyak 70 pementasan
  • Menggelar Wayang Simphony di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dalam rangka Sepekan Wayang Kebangsaan (2006).
  • Melahirkan konsep Wayang Kebangsaan, sebuah konsep pagelaran wayang yang mengangkat isu-isu kebangsaan dan nasionalisme.
  • Menggelar pentas Duel Dalang Kondang: Ki Enthus & Ki Manteb, di Monumen GBN Slawi, Tegal (2007)
  • Menggelar pentas Wayang Blong, dalam event Festival Seni Surabaya (2007).
  • Mewakili Indonesia dalam event Festival Wayang Internasional di Denpasar, Bali (2008)

Wayang Spektakuler

  • Wayang Goerge Bush (2006 dan 2008)
  • Wayang Saddam Husein (2006 dan 2008)
  • Wayang Osama bin Laden (2002)
  • Wayang Gunungan Tsunami Aceh (2006)
  • Wayang Gunungan Harry Potter (2006)
  • Wayang Batman (2001)
  • Wayang Alien (2001)
  • Wayang tokoh-tokoh politik (2001—sekarang)
  • Wayang Teletubies (tahun 2001)
  • Wayang Rai Wong (tahun 2005-2006)
  • Wayang Walisanga (tahun.....)
  • Wayang planet (2001—2002)
  • Wayang Wali (2004—2006)
  • Wayang Prayungan (2000—2001)
  • Wayang Simphony (2007)
  • Wayang Blong (2007)
  • Wayang Kebangsaan (2006—sekarang)
  • Wayang Minimalis (2007)
  • Wayang Barrack Obama

Penghargaan

  • Dalang terbaik se-Indonesia dalam Festival Wayang Indonesia (2005)
  • Gelar Doktor Honoris Causa bidang seni budaya dari International Universitas Missouri, U.S.A Laguna College of Bussines and Arts, Calamba, Philippines(2005).
  • 2007 memecahkan Rekor Muri sebagai dalang terkreatif dengan kreasi jenis wayang terbanyak (1491 wayang).
  • Pemuda Award Tahun bidang Seni dan Budaya, dari DPD HIPMI Jawa Tengah (2005).
  • Seniman Berprestasi

Karya Dalam Museum

  • Tropen Museum di Amsterdam, Belanda
  • Museum of Internasional Folk Arts (MOIFA) di New Meksiko
  • Museum Wayang Walter Angts di Jerman

Pameran Wayang

  • Pameran Wayang bertajuk Wayang adalah Rohku dalam rangka Dies Natalis STSI Surakarta(2003).
  • Pameran Wayang Grand Launching Wayang Rai Wong di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta (2006)
  • Pameran Wayang Rai Wong, di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya (2006).
  • Pameran Wayang Rai Wong dalam Pekan Wayang Kebangsaan, di Galeri Cipta II TIM – Jakarta (2007).
  • Pameran bersama Wayang Indonesia, diselenggarakan oleh Museum Wayang Indonesia, di Jakarta (2007).
  • Pameran Wayang Superstar:The Theatre World of Ki Enthus Susmono , 29 Januari sampai 30 Juni 2009, di Tropen Museum-Amsterdam, Belanda.

Senin, 07 Januari 2013

Menteri Pertanian

Ir. H. Suswono, MMA (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 20 April 1959; umur 53 tahun) adalah politikus yang menjabat Menteri Pertanian Indonesia sejak 22 Oktober 2009. Sebelumnya ia menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI untuk periode 2004-2009 dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. Suswono menjadi anggota DPR-RI melalui Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah IX (Kab. Tegal, Kota Tegal, Kab. Brebes) dan dipercaya membidangi Bidang Pangan, Pertanian, Kehutanan, Perikanan, dan Kelautan di Komisi IV.

Sejarah hidup

Suswono adalah anak dari H. Asyraf dan Hj. Suratni. Suswono mempunyai enam adik: Suciati, Agus, Artati Budi, Arum, Arif, dan Iman Setiaji Suswono mempunyai empat orang anak: Anna Mariam Fadhilah, Adilah Ihsani, Muhammad Usaid Gharizah, dan Sarah Nabilah dari pernikahannya dengan Mieke Wahyuni

Pendidikan

Seminar dan Pelatihan

  • SEPADYA Depdikbud tahun 1987
  • Menghadiri Kongres Mahasiswa Islam Australia di Sidney tahun 1992Elemen B
  • Delegasi Departemen Kehutanan dan Perkebunan dalam rangka memenuhi undangan GTZ di Jerman tahun 2001
  • Studi Banding Agribisnis MMA IPB di Thailand dan China tahun 2002
Delegasi F-PKS ke Malaysia tahun 2004 dalam rangka advokasi permasalahan TKI di Malaysia

Piagam/Penghargaan

  • Lulusan Terbaik SEPADYA Angkatan I Kopertis Depdikbud tahun 1987
  • Pelajar Teladan Tingkat SLTA Kab. Tegal tahun 1978

Pekerjaan

Organisasi

Pemerintahan

  • Tenaga Ahli Menteri Kehutanan tahun 1999-2001
  • Anggota DPR RI Periode 2004-2009
  • Wakil Ketua Komisi IV DPR RI 2005-2009
  • Menteri Pertanian - Kabinet Indonesia Bersatu II 2009-2014

Pembantu Rektor III UNNES

Prof. Dr. Masrukhi M.Pd lahir di Tegal , 08 Mei 1962. Ia mengajar Dasar dan Konsep Pendidikan Moral dan Antropologi Budaya pada Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Fakultas Ilmu Sosial, Unnes. Studi S1 dan S2 di bidang Pendidikan Kewarganegaraan diperoleh di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Adapun studi doktoralnya ditempuh di Universitas Negeri Semarang dengan spesialisasi pada Pendidikan Nilai.
Menurut Prof. Masrukhi, M.Pd, pendidikan karakter di Indonesia adalah pendidikan karakter Pancasila. Nilai-nilai Pancasila menjadi nilai fundamental dalam membangun karakter manusia Indonesia. Pancasila harus menjadi kesadaran bersama (collective consciousness), berfungsi sebagai pedoman hidup. Model pembinaannya adalah secara komprehensif dan multi-approaches, mulai dari model pengembangan moral dari dimensi kognitif, afektif, dan juga behavioristik.
Berdasarkan risetnya ia mengkategorikan ada lima kelompok mahasiswa yang nampak dalam realitas diri dan sosial. Pertama adalah mahasiswa adalah idealis-konfrontatif, yang cenderung aktif menentang kemapanan, seperti melalui demonstrasi. Kedua, mahasiswa idealis-realistis, lebih kooperatif dalam perjuangan menentang kemapanan.
Ketiga, mahasiswa oportunis, yang cenderung mendukung pemerintah yang tengah berkuasa, kemudian keempat mahasiswa profesional, yakni mereka yang hanya berorientasi pada kuliah atau belajar. Empat wajah mahasiswa ini ternyata hanya ada sekitar 10 persen, selebihnya adalah wajah kelima, yakni mahasiswa rekreatif yang berorientasi pada gaya hidup glamour.
Kendati kelompok idealis presentasinya kecil dibandingkan dengan kelompok lain, secara bersama-sama mereka memiliki energi besar yang disebut collective consciousness.
Penelitian bidang pendidikan dan sosial yang telah dilakukannya, antara lain:
  1. Perilaku Wanita Hamil di Pedesaan Terhadap Pelayan Kesehatan dari Puskesmas dan Dukun Bayi (Kajian Nilai Masyarakat Tradisional, Kasus DesaNelayan di Kotamadia Tegal tahun 1999.
  2. Pola Penanganan Kepolisian terhadap Tindak Kekerasan pada Perempuan (Studi pada Polwiltabes Semarang) (2006).
  3. Model Penyadaran Kesetaraan dan Keadilan Gender di Pondok Pesantren (2005).
  4. Analisis Kebijakan Bupati Sragen dalam Pembangunan Bidang Pendidikan,Ekonomi, dan Kesehatan (2006)
  5. Figur Wanita Ideal dalam Perspektif Pria Sukses di Jawa Tengah (1999).
  6. Konflik Peran Ganda Wanita Bekerja (Studi pada para Pekerja Wanita Sektor Industri di Kawasan Semarang Barat (2000).
  7. Orientasi Gender Santriwati ; Studi Kasus di Pondok Pesantren Putri Al Islah Kodia Semarang (2000).
  8. Identifikasi Persoalan Gender untuk Menunjang Penyusunan Program Pembangunan Berwawasan Gender (Penelitian di Kabupaten Jeneponto, Selayar, Takalar, Bantaeng, dan Makassar) Kerja sama YP2SS dengan PAN Internasional Distrik Makassar (2001).
  9. Peranan Program Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) bagi Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Menjaga Kelestarian Hutan (Studi di Wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan Semarang) (2001).
  10. Orientasi Nilai Budaya Masyarakat Miskin (Penelitian pada beberapa komunitas nelayan miskin di Kota Semarang) (2001).
  11. Peningkatan Rancangan Perkuliahan Pendidikan Pancasila di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (2002).
  12. Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa dalam Pembelajaran PPKn melalui Penyajian Metode VCT (Value Clarification Technique) pada Kelas II SMU Negeri 3 Semarang (2002).
  13. Pengembangan Materi Ajar Berperspektif gender (Penelitian dan Pengembangan pada Mata Pelajaran PPKn SD) (2003).
  14. Profil Anak Jalanan Perempuan di Kota Semarang (Kebutuhan, Motivasi, dan Aspirasinya) (2003).
  15. Pemilikan dan Penguasaan Tanah Land Reform dan Kemiskinan Petani (Kasus Mutasi Tanah Pertanian di Kabupaten Pacitan), kerja sama Unnes dengan Pemkab Pacitan (2004).
  16. Ideologi Gender Media Pembelajaran (Penelitian pada Beberapa Taman Kanak-kanak di Kota Semarang) (2005).
  17. Energi Sosial Desa perannya dalam Pengentasan Kemiskinan (Penelitian di Kabupaten Pacitan Jawa Timur) (2005)
  18. Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dalam Pembelajaran Pengetahuan Sosial di SD di Kota Semarang (2005).
  19. Model Penyadaran Kesetaraan dan Keadilan Gender di Pondok Pesantren (Penelitian Hibah Bersaing) (2005).
  20. Analisis Kebijakan Bupati Sragen dalam Pembangunan Bidang Pendidikan, Ekonomi, dan Kesehatan (2006).
  21. Kajian Strategi Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Pacitan (2006).
  22. Pola Penanganan Kepolisian terhadap Tindak Kekerasan pada Perempuan (Studi pada Polwiltabes Semarang) (2006).
  23. Studi tentang Implementasi Managemen Berbasis Sekolah (penelitian pada SMP Negeri di Kota Semarang) (2006).
  24. Sudi tentang Kinerja Kepala Sekolah di Era School Based Management (Penelitian pada sekolah dasar di Kota Semarang) (2007).