format

Universitas Konservasi

Universitas Negeri Semarang

FORMAT UNNES

Forum Mahasiswa Tegal UNNES

Embung

fasilitas yang ada di UNNES untuk menaggulangi banjir

Delegasi Format UNNES

dalam rangka pembentukan FORMAT Semarang di Kampus 3 IAIN Walisongo Semarang.

Sosialisasi 2013

FORMAT UNNES bersosialisasi SNMPTN 2013 di SMA, SMK, MAN Kota dan Kab. Tegal

Selasa, 08 Januari 2013

Kaos Galgil

Sebagian besar orang mungkin sudah mengenal kaos Joger Bali dan Dagadu Djokdja. Dengan ciri khasnya masing-masing, keberadaan merek-merek tersebut ibarat sudah menjadi identitas bagi daerah masing-masing.
Di Tegal, sejak beberapa tahun terakhir bermunculan produk serupa, yakni kaos Tegalan. Misalnya merek "Umbrus" milik H Tambari, "Jakwir Cetem" milik kakak beradik Erdiansyah Zulyadaini dan M Ersal Aburizal, serta "Galgil" yang lahir dari rembugan sejumlah orang.

Dalam bahasa Indonesia, Umbrus berarti asal berbicara, Jakwir Cetem artinya sahabat karib, dan Galgil hampir mirip dengan pemberani plus sedikit nekat. Umbrus, Jakwir Cetem, dan Galgil, adalah kosakata yang sangat familiar bagi masyarakat Tegal. Tiga kosakata itu bisa dibilang, Tegale por! (Tegal sekali-Red).

Dibalik namanya, kaos Tegalan ternyata bukan hanya sekadar urusan bisnis untung rugi, tapi juga mengandung unsur kampanye budaya Tegal. Itu karena, Tegal dinilai mempunyai karakter yang unik dan berbeda dengan daerah lain.

Penulis terbaik pada kompetisi “Mimpi tentang Tegal“ yang diadakan IDEA Bappeda Kabupaten Tegal dalam rangka HUT Kabupaten Tegal ke-410 beberapa waktu lalu, Akhda Afif Rasyidi, mengatakan, Tegal mempunyai karakteristik yang khas.

Keunikan wong Tegal salah satunya adalah merupakan kaum urban. Mereka yang telah menjadi perantau, dan bahkan pekerja di luar negeri, akan merasakan bahwa Tegal memiliki warna yang sangat berbeda dengan kota lain.

Berbagai warna yang ada di Tegal, dari sisi positif maupun negatifnya, menunjukkan estetika meskipun terkesan subjektif. Hal itu karena semua orang sebenarnya memiliki karakter psikologis dan mental yang berbeda-beda secara genekologis hingga ke struktur masyarakat, ujar lulusan UI 2008 tersebut.

Lebih lanjut, Afif yang kini bekerja sebagai staf di Kementrian Kominfo RI tersebut, menjelaskan, kenapa Tegal dinilai sebagai daerah yang ngangeni lan mbetahi? Jawabannya adalah karena warga Tegal merupakan pelaku migrasi yang sangat luwes.

Meski sukses di negeri orang, mereka akan kangen dengan kampung halaman. Ada semacam kepercayaan pada masyarakat Tegal bahwa merantau adalah salah satu kunci keberhasilan dan bisa dibuktikan di kampungnya. Menurutnya, hal tersebut berbeda dengan orang Minang yang memiliki motto Pergilah, jadilah orang ternama, jangan di kotamu. Tapi di Tegal tidak. Sekaya apapun, sejauh apapun merantau, mereka akan berkeinginan pulang kampung.

Maka, senada dengan hal itu, salah satu founder kaos Galgil Ahmad Zaki menyatakan, embrio munculnya kaos tersebut memang bermula dari pencarian identitas kedaerahan yang selama ini kurang dimiliki oleh masyarakat Tegal, khususnya yang berada di luar kota.

Kaos Galgil lahir dari sebuah forum diskusi semacam Kaskus yang bernama Tegal Cyber Community (TCC) yang dikelola oleh sejumlah orang.
Meski mengadopsi konsep Joger dan Dagadu, Zaki menegaskan, bahwa kaos Galgil memiliki diferensiasi atau perbedaan yang mencolok terutama dalam latar belakang dan karakteristik kedaerahan.

Jika Bali dan Jogja sebagai tempat lahir Joger dan Dagadu merupakan daerah dengan latar belakang pariwisata, maka Tegal sebagai tanah kelahiran kaos Galgil memiliki keunikan tersendiri. “Tegal tidak didukung dengan infrastruktur pariwisata seperti Bali dan Jogja. Tapi Tegal merupakan daerah kaum urban. Sebagian masyarakat Tegal bekerja dan menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan bahkan ke luar negeri,“ terangnya.

Beragam Tema Mendasari latar belakang itu, kaos Galgil mengeluarkan produk pertama yang bertema "Aja Klalen, Back to Tegal". Tema itu, menurut para foundernya, terilhami dari fenomena banyaknya orang Tegal di perantauan yang selalu kangen dan mudik ke kampung halaman.

Demikian juga dengan kaos Jakwir Cetem. Pencetus ide kaos tersebut, M Ersal Aburizal pun mengangkat tema serupa. Lewat wangsalan "Lemah lempung pinggir sawah, balik kampung atine bungah", seolah menasbihkan bahwa merindukan Tegal adalah takdir bagi orang Tegal yang merantau.

Jakwir Cetem menjelaskan, kaos bertema pulang kampung dan cinta Tegal bukan merupakan chauvinisme atau semacamnya. Tema itu dimaksudkan agar setiap putra daerah Tegal mencintai dan berkeinginan mengembangkan kotanya sehingga dapat selalu tampil di kancah pembangunan.

Selama ini, banyak orang Tegal yang malu dan kurang bangga dengan daerahnya sendiri. Pada intinya, kami ingin mengampanyekan budaya Tegal kepada masyarakat luas melalui kaos, tambah Zaki.

Selain kembali ke kampung halaman, beragam tema juga diusung oleh para tim kreatif masing-masing. Di antaranya yaitu tentang tradisi, kuliner, objek wisata, dan tempat-tempat bersejarah di Tegal.

Pada beberapa keluarannya, Galgil dan Jakwir Cetem juga menyoroti persoalan-persoalan kekinian, serta menyelinginya dengan pesan moral. Seperti saat menyikapi penangkapan teroris di Karanganyar Kecamatan Dukuhturi, Galgil mengeluarkan kaos bertema "Sung Nyong Dudu Teroris" (sumpah, saya bukan teroris-red).

Adapun saat harga sembako melonjak, Jakwir Cetem mencetuskan kaos bertuliskan "Rega padha Mundhak, sing Mlorod, mung Kathok" (harga pada naik, yang turun cuma celana-red). Konsep lainnya, diantaranya tentang wejangan-wejangan hidup berbahasa Tegal yang cukup mengena, seperti "Dadi Wong Sugih Aja Nggo Kadiran" dan "Jare Wong Tua Urip Aja Onggrongan" karya Jakwir Cetem, serta "Aja Isin Dadi Wong Tegal" dan "Biar Ngapak asal Kompak" oleh kaos Galgil.

Untuk pemasaran produk, selain menggunakan cara konvensional yakni membuka outlet Jakwir Cetem di Jalan Raya Karanganyar Dukuhturi, dan Galgil di Jl Raya Pesayangan Talang, keduanya juga aktif berpromosi melalui akun facebook dan website.

Olos

Olos adalah makanan tradisional dari kabupaten Tegal, tepatnya di Desa Jatirawa Kecamatan Tarub. Pembuat olos yang pertama kali yaitu ibu Khotiah yang beralamat di Desa Jatirawa RT 01 RW 01 No. 26, Kecamatan Tarub, Kabupaten Tegal.. Beliau adalah seorang ibu rumah tangga di desa Jatirawa yang sudah tidak mempunyai suami lagi. Olos ini ia gunakan sebagai mata pencahariannya untuk menghidupi anak-anaknya. Makanan olos dibuat pertama kali pada tahun 1995 dan masih ada sampai sekarang. Di rumah yang cukup sederhana milik ibu Khotiah lah olos tercipta.

Jajanan ini sebenarnya adalah revolusi dari “risol”. Awalnya pembuat olos ini hendak membuat risol, namun karena risol yang berbentuk persegi panjang ini terlalu rumit dibuat, yakni memerlukan penggiling dari kayu untuk memipihkan adonan, pembuat memutuskan dibuat bulat saja. Karena dengan bentuk ini dianggap lebih mudah dan praktis untuk dibuat. 

Nama olos sendiri tercipta sejak 15 tahun yang lalu dari seorang anak kecil yang tidak bisa mengucapkan risol dengan ucapan yang benar ketika ia mencoba jajanan ini. Risol pun berubah menjadi Olos. Karena dianggap menarik oleh ibu Khotiah nama itu pun dipakai sampai sekarang.
PERKEMBANGAN OLOS
Makanan olos mempunyai bentuk bulat dan rasa yang pedas, gurih, enak, dan halal. Makanan olos itu dapat dikonsumsi dengan teh maupun sebagai lauk serta jajanan. Karena rasanya yang pedas, gurih, enak, dan halal, makanann olos banyak digemari oleh semua kalangan masyarakat dari anak-anak sampai dewasa dan dari orang kaya sampai orang tidak mampu.
Usaha berjualan makanan olos yang dilakukan oleh Ibu Khotiah, sekarang ini sudah mempekerjakan dua karyawan yang telah membantunya dalam membuat makanan olos, bahkan anaknya yang bersekolah di SMK Peristek juga membantu pada saat sekolah libur dan setelah pulang sekolah.
Perkembangan makanan olos sangatlah cepat karena selera masyarakat yang menyukai makanan yang enak, gurih, serta terjangkau. Pada awalnya makanan olos hanya dibeli oleh tengkulak-tengkulak dari pasar, namun pada perkembangannya makanan olos banyak dibeli oleh para pelajar dan masyarakat sekitar.
Penjualan makanan olos selalu meningkat dan mampu menghasilkan pendapatan yang cukup besar, bahkan Ibu Khotiah mampu menyekolahkan anaknya sampai SMK dan mampu membeli sepeda motor sebanyak 3 unit.
Penjual makanan olos sudah ada dibeberapa tempat, namun penjual makanan olos yang paling banyak memiliki pembeli adalah tempat pertama yang menjual olos. :
CARA MEMBUAT OLOS

BAHAN-BAHAN
1. Tepung terigu
2. Tepung kanji
3. Cabe rawit
4. Kubis
5. Minyak goreng
6. Air
7. Penyedap rasa
8. Bumbu dapur
9. Daun bawang
LANGKAH-LANGKAH

  • Cincang kubis, daun bawang, dan cabe rawit yang sudah disediakan tadi, kemudian aduk rata dengan bumbu dapur.
  • Buat adonan dari tepung terigu, tepung kanji, dan air secukupnya tambahkan juga penyedap rasa secukupnya. Adonan diaduk terus sampai tercampur rata. Setelah rata dan kalis, adonan didiamkan sebentar agar mengembang.
  • Setelah adonan didiamkan kira-kira 20 menit, adonan kita ambil sedikit-sedikit dan dibuat seperti lempengan yang berbentuk lingkaran, kemudian isi dengan campuran kubis, cabe rawit, dan daun bawang yang telah dicincang tadi. Setelah itu buat bulat menyerupai bola.
  • Langkah selanjutnya panaskan minyak untuk menggoreng.
  • Goreng bola-bola olos tadi di atas api yang sedang, goreng sampai seluruh bagian olos berwarna kecoklatan (matang).
  • Tiriskan olos dari penggorengan, dan Olos siap untuk disajikan.

Kerupuk Antor

Ingin mencoba sensasi Kerupuk yang dibuat menggunaan pasir dalam pengolahannya? Coba saja Kerupuk Antor.
Rasa kerupuk antor itu kebanyakn adalah rasa bawang. Menurut penduduk sekitar, kerupuk antor yang nikmat itu kerupuk antor “badeg”. Maksudnya adalah kerupuk antor yang warnanya pekat karena bumbunya.
Kerupuk ini banyak ditemukan di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Banjaran, Pasar Trayeman, dan lain-lain.
Kerupuk antor, bisa disebut juga kerupuk pasir atau kerupuk badeg. Biasanya berbentuk seperti kerupuk kecil lainnya, namun dilumuri bumbu yang berwarna coklat agak kehitaman. Rasa dari kerupuk antor adalah rasa bawang. Ada 2 jenis kerupuk antor dari warnanya, yaitu kerupuk antor warna-warni dan yang biasa. Untuk kerupuk antor yang biasa, bumbunya akan terihat sangat pekat dan banyak.
Teknik memasak kerupuk antor memang tergolong unik, yaitu menggunakan pasir sebagai medianya. Namun tentu saja pasirnya sudah benar-benar bersih. Sehingga apabila ketika kita memakannya akan berasa seperti pasir.
Industri kerupuk antor ini banyak ditemukan di daearh Ujungrusi, Harjosari Lor, Harjosari Kidul, Penarukan, dan Pagedangan. Semuanya berada di daerah Kabupaten Tegal.
Kerupuk ini banyak ditemukan di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Banjaran, Pasar Trayeman, dan lain-lain. Dan banyak dicari untuk oleh-oleh.

Kacang Bogares

Kacang bogares juga tak kalah pamor diantara sederet oleh-oleh khas Tegal. Kacang Bogares bisa ditemukan di daerah Bogares, Kecamatan Pangkah. Rata-rata penduduk sekitar memang kebanyakan membuat dan menjual kacang tersebut.
Kacang Bogares adalah menu cemilan khas dari Desa Bogares, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal. Desa ini yang dikenal sebagai penghasil kacang tanah. Tidak seperti hasil bumi yang sama dari daerah lain, kacang dari Desa Bogares memiliki rasa dan aroma yang berbeda. Rasanya gurih, manis, baunya pun harum dan warnanya putih bercampur merah.
Suami-istri Warsono (57)-Sudarni adalah salah seorang produsen kacang asin Bogares. Lelaki yang memanfaatkan rumahnya sebagai tempat usaha itu setiap bulan membutuhkan tiga ton kacang tanah.
”Bahan baku kacang itu saya beli Rp 5.000/kg, sedangkan kayu bakar yang dibutuhkan untuk menggoreng saya beli 25 kubik untuk setahun dengan harga Rp 40.000,” kata Warsono kepada Suara Merdeka, belum lama ini.
Di sela-sela melihat bahan baku kacang yang baru dibelinya, dia menjelaskan, proses penggorengan menggunakan pasir, bukan minyak goreng. Wajan penggoreng yang digunakan berdiameter 1,5 meter, untuk memproduksi 2 kuintal per hari.
Pasangan itu tidak perlu keluar rumah untuk memasarkan hasil produksinya. Para pedagang dari berbagai kota besarlah yang datang ke rumahnya untuk kulakan.
Makanan cemilan khas buatan keluarga yang tempat tinggalnya bersebelahan dengan Balai Desa Bogares itu, bisa dijumpai di Jakarta, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, dan kota besar lainnya di luar Jawa.
Generasi Ketiga
Produksi makanan berbahan baku kacang ini ternyata dilakukan secara turun-temurun. Warsono merupakan generasi ketiga penerus usaha itu.
”Usaha ini warisan ayah saya, Wiryadi. Sebelumnya dikelola kakak dan saya sebagai penerus dapat menampung 32 tenaga kerja,” tuturnya. Dua orang di bagian penggorengan digaji Rp 20.000/orang/hari. Adapun 20 orang lagi bertugas mengupas kulit ari kacang digaji Rp 300/satu kaleng isi 10 kg.
Sisanya bertanggung jawab untuk menyortir kacang dengan gaji Rp 8.000/hari/orang. Sortiran kacang yang bulatannya kecil serta sudah pecah-pecah disendirikan karena tidak digunakan untuk bahan kacang asin.
”Kacang yang butirannya kecil dijual ke tukang sate untuk bahan pembuat sambal. Pokoknya tidak ada yang tidak laku dijual,” ujarnya.
Cara pembuatan kacang asin diawali dengan merendam bahan baku di air tawar minimal tiga jam. Selanjutnya kacang direndam di air garam (dibacem) dan di jemur hingga kering.
Setelah melalui proses tersebut, kacang siap digoreng. Dan sebelum dimasukkan ke dalam kantong plastik berisi satu kilogram, kacang harus diayaki (disaring) terlebih dulu untuk memisahkannya dari pasir penggoreng.
Cara menggoreng dengan bahan bakar kayu, dilakukan mulai pukul 08.00-16.00. Selama penggorengan, kacang harus dikorek-korek. Ini dilakukan agar pemanasannya bisa merata sehingga hasilnya memuaskan.
Sejumlah 2 kuintal hasil produksi sehari itu dikemas dalam kantong plastik berisi satu kilogram. Produk itu dipasarkan dengan harga Rp 14.000/kg. Rata-rata sebanyak 200 kantong plastik itu laku terjual dalam waktu sepuluh hari.

Kacang Bogares hampir sama dengan kacang pada umumnya. Namun dengan tambahan bumbu dan teknik yang khas, membuat kacang ini mempunyai cita rasa yang khas.
Kacang ini juga bisa ditemukan di warung-warung atau pasar tradisional terdekat.

Pilus

Makanan yang dibuat dengan menggunakan tepung terigu, tepung kanji, daun kocai, dan bumbu tambahan lainnya, membuat jajanan yang satu ini sangat nikmat. Terlebih lagi dicampur dengan kuah bakso yang hangat. hmm, yummy…
Yang membedakan pilus Tegal dengan yang lainnya adalah dari warna dan rasanya. Warnanya putih agak kecoklatan.
Pilus khas Tegal ini bisa ditemukan di pasar tradisional atau warung-warung terdekat.

Sejarah Kabupaten Tegal

Sejarah Tegal
Kekayaan sejarah sebuah kota atau kawasan terlihat dari jejak peninggalan apa yang disebut cultural heritage dan living cultural yang tersisa dan hidup di kawasan tersebut. Keduanya merupakan warisan peradaban umat manusia.
Demikian halnya dengan Kabupaten Tegal, Wilayah yang kaya akan jejak peninggalan kesejarahan sebagai penanda bahwa Kabupaten Tegal sebagai tlatah kawasan tak dapat dilepaskan dari keterkaitan garis sejarah hingga membentuk kawasan sekarang ini.
Penekanan pada bidang pertanian misalnya, tak dapat dilepaskan dari kondisi wilayah dan akar kesejarahan tlatah Kabupaten Tegal yang mengembangkan kapasitasnya selaku wilayah agraris. Tradisi keagrarisan dimulai dari ketokoan Ki Gede Sebayu juru demung trah Pajang. Bahkan kalau dirunut keagrarisan itu dimulai semenjak Mataram Kuno.
Kesaksian ini diperkuat denga ditemukannya artefak kuno dan candi di Pedagangan. Ditambah tlatah Tegal kerapkali dikaitkan dengan kerajaan Pajang dan Mataram Islam yang cenderung kekuasaan dengan basis pada agraris ( De Graaf, 1986).

Juru Demung Ki Gede Sebayu
Tegal berasal dari nama Tetegal, tanah subur yang mampu menghasilkan tanaman pertanian (Depdikbud Kabupaten Tegal, 1984). Sumber lain menyatakan, nama Tegal dipercaya berasal dari kata Teteguall. Sebutan yang diberikan seorang pedagang asal Portugis yaitu Tome Pires yang singgah di Pelabuhan Tegal pada tahun 1500 –an (Suputro, 1955).
Namun sejarah tlatah Kabupaten Tegal tak dapat diepaskan dari ketokohan Ki Gede Sebayu. Namanya dikaitkan dengan trah Majapahit, karena sang ayah Ki Gede Tepus Rumput ( kelak bernama Pangeran Onje) ialah keturunan Batara Katong Adipati Ponorogo yang masih punya kaitan dengan keturunan dinasti Majapahit (Sugeng Priyadi, 2002).

Kabupaten Tegal terletak sebelah pesisir utara bagian Barat Pulau Jawa. Secara geografis Kabupaten Tegal terletak diantara 108°57’6” s.d 109°21’30" garis bujur timur dan 6°50’41" s.d 7°15’30" Garis Lintang Selatan, Posisi Kabupaten Tegal berbatasan dengan Kabupaten Brebes (sebelah Barat), Laut Jawa dan Kota Tegal (sebelah Utara), Kabupaten Pemalang (sebelah Timur) dan Kabupaten Brebes dan Kabupaten Banyumas (sebelah Selatan)
PETA KABUPATEN TEGAL

Bupati Tegal

"TEGAL GOTONG ROYONG YANG DILANDASI KETAKWAAN KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA"

Bupati Tegal
M. HERRY SOELISTYAWAN, SH, M.Hum

 

Kabupaten Tegal, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Slawi, sekitar 14 km sebelah selatan Kota Tegal. Kabupaten ini berbatasan dengan Kota Tegal dan Laut Jawa di utara, Kabupaten Pemalang di timur, Kabupaten Banyumas di selatan, serta Kabupaten Brebes di selatan dan barat.
Bagian utara wilayah Kabupaten Tegal merupakan dataran rendah. Di sebelah selatan merupakan pegunungan, dengan puncaknya Gunung Slamet (3.428 meter), gunung tertinggi di Jawa Tengah. Di perbatasan dengan Kabupaten Pemalang, terdapat rangkaian perbukitan yang tidak terlalu terjal. Di antara sungai besar yang mengalir adalah Kali Gung dan Kali Erang, keduanya bermata air di hulu Gunung Slamet.
Kabupaten Tegal terdiri atas 18 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Slawi. Slawi dulunya merupakan kota kecamatan, yang kemudian dikembangkan menjadi ibukota kabupaten yang sebelumnya berada di Kota Tegal.