format

Selasa, 08 Januari 2013

Kacang Bogares

Kacang bogares juga tak kalah pamor diantara sederet oleh-oleh khas Tegal. Kacang Bogares bisa ditemukan di daerah Bogares, Kecamatan Pangkah. Rata-rata penduduk sekitar memang kebanyakan membuat dan menjual kacang tersebut.
Kacang Bogares adalah menu cemilan khas dari Desa Bogares, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal. Desa ini yang dikenal sebagai penghasil kacang tanah. Tidak seperti hasil bumi yang sama dari daerah lain, kacang dari Desa Bogares memiliki rasa dan aroma yang berbeda. Rasanya gurih, manis, baunya pun harum dan warnanya putih bercampur merah.
Suami-istri Warsono (57)-Sudarni adalah salah seorang produsen kacang asin Bogares. Lelaki yang memanfaatkan rumahnya sebagai tempat usaha itu setiap bulan membutuhkan tiga ton kacang tanah.
”Bahan baku kacang itu saya beli Rp 5.000/kg, sedangkan kayu bakar yang dibutuhkan untuk menggoreng saya beli 25 kubik untuk setahun dengan harga Rp 40.000,” kata Warsono kepada Suara Merdeka, belum lama ini.
Di sela-sela melihat bahan baku kacang yang baru dibelinya, dia menjelaskan, proses penggorengan menggunakan pasir, bukan minyak goreng. Wajan penggoreng yang digunakan berdiameter 1,5 meter, untuk memproduksi 2 kuintal per hari.
Pasangan itu tidak perlu keluar rumah untuk memasarkan hasil produksinya. Para pedagang dari berbagai kota besarlah yang datang ke rumahnya untuk kulakan.
Makanan cemilan khas buatan keluarga yang tempat tinggalnya bersebelahan dengan Balai Desa Bogares itu, bisa dijumpai di Jakarta, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, dan kota besar lainnya di luar Jawa.
Generasi Ketiga
Produksi makanan berbahan baku kacang ini ternyata dilakukan secara turun-temurun. Warsono merupakan generasi ketiga penerus usaha itu.
”Usaha ini warisan ayah saya, Wiryadi. Sebelumnya dikelola kakak dan saya sebagai penerus dapat menampung 32 tenaga kerja,” tuturnya. Dua orang di bagian penggorengan digaji Rp 20.000/orang/hari. Adapun 20 orang lagi bertugas mengupas kulit ari kacang digaji Rp 300/satu kaleng isi 10 kg.
Sisanya bertanggung jawab untuk menyortir kacang dengan gaji Rp 8.000/hari/orang. Sortiran kacang yang bulatannya kecil serta sudah pecah-pecah disendirikan karena tidak digunakan untuk bahan kacang asin.
”Kacang yang butirannya kecil dijual ke tukang sate untuk bahan pembuat sambal. Pokoknya tidak ada yang tidak laku dijual,” ujarnya.
Cara pembuatan kacang asin diawali dengan merendam bahan baku di air tawar minimal tiga jam. Selanjutnya kacang direndam di air garam (dibacem) dan di jemur hingga kering.
Setelah melalui proses tersebut, kacang siap digoreng. Dan sebelum dimasukkan ke dalam kantong plastik berisi satu kilogram, kacang harus diayaki (disaring) terlebih dulu untuk memisahkannya dari pasir penggoreng.
Cara menggoreng dengan bahan bakar kayu, dilakukan mulai pukul 08.00-16.00. Selama penggorengan, kacang harus dikorek-korek. Ini dilakukan agar pemanasannya bisa merata sehingga hasilnya memuaskan.
Sejumlah 2 kuintal hasil produksi sehari itu dikemas dalam kantong plastik berisi satu kilogram. Produk itu dipasarkan dengan harga Rp 14.000/kg. Rata-rata sebanyak 200 kantong plastik itu laku terjual dalam waktu sepuluh hari.

Kacang Bogares hampir sama dengan kacang pada umumnya. Namun dengan tambahan bumbu dan teknik yang khas, membuat kacang ini mempunyai cita rasa yang khas.
Kacang ini juga bisa ditemukan di warung-warung atau pasar tradisional terdekat.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar